Senin, 14 Januari 2019

Jejak Langkah dan Arah Juang PPMIBU


Furnitur Dapur Peradaban


Di hitung-hitung, Kurang lebih sudah 3 tahun saya berada di rumah yang katanya dapur peradaban, intelektualistik dan kedaerahan dengan tujuan Analisis, riset dan Aksi.

 Seutas demi seutas konflik maupun dinamika kian membuka tabir furnitur yang sebenarnya, tak ada lagi kehangatan dalam sebuah Persatuan yang katanya terhimpun dengan rasa kekeluargaan yng kuat, sebab jiwa ke-Akuan semakin hari makin gembar-gembor di kultuskan oleh masing-masing orang yang ada di dalamnya.

Motto Organisasi Hebat dan Akademik Mantap pun serasa seperti dotrin pasaran yang hanya mampu di lisankan, tanpa di ejawantahan.

 Demokrasi yang katanya sebagai hak makin hari makin tenggelam bersama harapan para pendiri terdahulu, dan kini hanya Indoktrinasi yang mulai tumbuh subur, entah siapa yang menaburkan benih-benihnya, di cangkok lagi dengan ranting-ranting kebencian yang juga begitu rindangnya, sehingga kini dapur peradaban kita di Rasuki dan di Rusaki.

Jika pak tani mengkapling sawahnya perpetak untuk ditanami padi, maka para oknum dalam PPMIBU mampu mengkapling adik-adik kadernya untuk memberikan sekat ideologi juga penanaman kebencian terhadap satu sama lain. Miris! Konstruksi intelektual yang sengaja dibangun dengan susah payah, dirobohkan menjadi puing-puing olehnya.

Ada apa dengan kader PPMIBU 

Kader PPMIBU sedang mengalami kemarau panjang intelektual, kulturisasi kajian seakan mati, "bukan karna tak ada yang ber-INISIASI, bahkan banyak yang meng-APRESIASI, hanya saja tak ada yang ber-PARTISIPASI. Mayoritas dari mereka menganggap kultur kajian sudah tak penting lagi dan tak relevan dengan zaman, seakan ingin melupakan bahwa inilah "Mimbar Akademik" tempat di mana Dialektika adalah aktualisasi yang sangat bermanfaat, dan Mereka lupakan itu.

Membangun kesadaran palsu antar sesama, KAITOLOGI dan COCOKMOLOGI pun menjadi sarapan sehari-hari untuk para junior, dogma menjalar begitu luas, tertanam begitu dalam dan terikat begitu erat, membentuk satu pemikiran Anarko dan Buta yang sudah di jadikan Stigma. 

Sehingganya, para korban cenderung menjadi sekumpulan separatis plus Apatis yang siap terima perintah untuk bertindak Subversif di rumahnya sendiri. Mereka lupa, yang dirasuk dan dirusak adalah rumah.

PPMIBU sebagai Kawah Candradimuka

Candradimuka namanya, kawah dimana gatot kaca diterpa, dikukuhkan menjadi manusia yang paripurna, berotot kawat bertulang besi, kawah semagaimana semua pusaka berada di dalamnya, untuk bagaimana kemudian menjadi ruang pembentukan intelektual dan jati diri.

PPMIBU seyogyanya adalah sebuah kawah Candradimuka. Ruang kajian harus terbuka lebar, begitu pula dengan pengkultusan Tema yang harus juga progresif, sebab semakin kesini zaman semakin berubah, tantangan semakin berat, kita jangan hanya stagnan dengan satu pemikiran saja untuk di jadikan perspektif tolak ukur penilaian.

Ini sudah bukan era Posmodernism lagi, kita sudah berada di era millenial dan hampir sampai di era Generasi Alpha, sembari menjemput Revolusi industri 4.0, yang mana ketika pemikiran kita tidak terus di upgrade dan masih stagnasi dengan kajian itu-itu saja, maka kita akan ketinggalan, bumingnya Science menjadikan  Filsafat pun harus tunduk padanya, karna Relevansi antara teori dengan hukum realita alamiah haruslah berkesinambungan.

Bersama mengembalikan Khitah Perjuangan Persatuan Pelajar Mahasiswa Bolaang Mongondow Utara, agar tetap sejalan dengan mimpi para pendiri terdahulu kita. Yakin dan Percaya, apabila mahabah sesama kader, terus kita jaga, maka takan tersisa sedikitpun untuk merusak wadah kita sendiri, Justru akan terus membangunnya.

Sekian dari saya.

Billahi taufiq wal hidayah..

:Setiawan Adi Setyo:
*Tulen lepasan kader , bukan kader lepas*

Minggu, 10 Juni 2018

Kenapa literasi itu penting ?
Dalam kehidupan ini, kiranya kita menyadari bahwa tidak ada ilmu pengetahuan yang bisa di dapatkan secara eksplisit tanpa literasi dan literatur yang jelas, sebagaimana elemen ilmu yang terdiri dari teori, regulasi dan fakta empiris dan sudah teruji,maka dengan hal ini bisa kita simpulkan bahwa membaca(Iqra) adalah satu - satunya cara untuk meng-uprade kemampuan diri agar dapat bertindak dengan tepat.

Bahkan, ada adagium yang mengatakan "Membacalah jika ingin mengenal dunia, dan menulislah jika ingin di kenal dunia"
Dogma yang kiranya sudah memiliki banyak pembuktian, ada satu adagium lagi dari seorang filsuf bernama voltaire yang menyatakan "Semakin aku banyak membaca, semakin aku banyak berpikir; semakin aku banyak belajar, semakin aku sadar bahwa aku tak mengetahui apa pun" atas dasar itu, kiranya menjadi satu pijakan agar terus bersemangat untuk mengecap dalamnya sumur ilmu pengetahuan.

Saya kira setiap gerakan itu mengandung dan mengundang, dan mempunyai konsekuensi baik ataupun buruk, yang kemudian hadir menjadi jalan yang bercabang, dengan konsekuensi yang berbeda juga tantangan yang berbeda pula, wajar jika ada ultimatum dari seorang guru yang mana berkata inti dari belajar adalah bergerak, akan tetapi analogi yang kemudian muncul yaitu belajar berliterasi dan bergumul dengan wejangan keilmuan itu ibarat sebuah pasokan ataupun bekal seorang musafir yang harus ia persiapkan ketika masih berada di wadah awalnya tersebut, ketika bekalnya sudah cukup, maka berniatlah untuk berangkat menggapai apa yang kemudian di cita - citakan untuk kemaslahatan umat dengan melalui jalan apa saja, entah kau ingin melalui pergerakan sekunder bahkan sekuler sekalipun.

Literasi, kajian semi formal maupun formal ataupun lain sebagainya yang bersifat kultural, adalah dasar awal untuk melangkah, jadi itu bukan menjadi opsi pilihan jalan yang akan di lewati. Semua jalan pembaharuan yang bermuara pada kemaslahatan pasti berpijak kepada kultur budaya literasi itu sendiri, bahkan para patron penggerak yang pernah di tulis dalam sejarah pasti melalui hal itu...

Sekian dari saya.
Billahi taufiq wal hidayah
Yakin usaha sampai
Wasalamualaikum Wr.Wb

Setiawan adi setyo(FN)

Sejumput Petuah Untukmu Seniorku

Magnum Arbor ****** Kanda. Kanda apa kabar di sana? Dinda rindu kanda. Rindu sejumput dusta darimu kanda. Dusta yang Kanda lontarkan le...